Sejarah tempe, Tempe bukan hanya lauk pauk sederhana di meja makan orang Indonesia. Lebih dari itu, tempe adalah warisan budaya yang telah melewati zaman, ruang, dan bahkan lintas negara. Makanan hasil fermentasi kacang kedelai ini kini diakui sebagai superfood dunia karena kandungan gizinya yang tinggi serta proses pembuatannya yang alami dan ramah lingkungan.
Tapi tahukah kamu? Tempe punya sejarah panjang dan unik. Artikel ini akan membahas asal-usul tempe, peran budayanya di Indonesia, hingga perjalanannya mendunia.
1. Asal Usul Tempe di Tanah Jawa
Meskipun kedelai berasal dari Tiongkok, tempe justru lahir dan berkembang di Jawa, Indonesia. Catatan sejarah menunjukkan bahwa tempe sudah di kenal sejak abad ke-16 di lingkungan Keraton Mataram.
Menurut beberapa sumber:
- Istilah “tempe” pertama kali muncul dalam naskah Serat Centhini (1814–1823).
- Tempe tradisional awalnya di buat dari ampas tahu atau bungkil kedelai.
- Fermentasi di lakukan menggunakan jamur Rhizopus oligosporus secara alami.
Dengan kata lain, tempe adalah inovasi lokal yang berkembang dari interaksi antara tradisi kuliner lokal dan bahan pangan asing (kedelai).
2. Tempe dalam Kehidupan Masyarakat Jawa
Tempe tidak hanya menjadi makanan, tapi juga simbol kerendahan hati dan kearifan lokal. Bahkan hingga kini, tempe kerap diasosiasikan sebagai makanan rakyat kecil yang sehat dan bergizi.
Selain itu, tempe punya tempat penting dalam tradisi dan upacara adat, seperti:
- Sajian dalam selamatan atau tumpengan
- Makanan puasa mutih (makanan putih sederhana)
- Menu wajib dalam dapur pesantren dan rumah tangga Jawa
Karena prosesnya yang sederhana namun bermakna, tempe menjadi bagian dari identitas budaya Jawa dan Indonesia secara luas.
3. Proses Fermentasi: Dari Kacang Kedelai Menjadi Superfood
Proses pembuatan tempe terbilang sederhana, tetapi sangat kaya nilai ilmiah. Dalam proses ini, kacang kedelai direndam, dikukus, lalu diinokulasi dengan ragi tempe (Rhizopus spp), dan di diamkan selama 24–48 jam.
Selama fermentasi terjadi, struktur kacang kedelai berubah menjadi:
- Lebih mudah dicerna
- Kaya protein nabati
- Mengandung vitamin B12 alami (langka di produk nabati)
- Bersifat probiotik dan antioksidan
Oleh karena itu, tempe mendapat julukan sebagai “fermented whole food” yang sangat bermanfaat bagi tubuh.
4. Tempe Mendunia: Dari Indonesia untuk Dunia
Dalam beberapa dekade terakhir, tempe mulai dikenal di luar negeri sebagai alternatif daging dan sumber protein nabati. Beberapa tonggak pentingnya antara lain:
- Diperkenalkan di Jepang pada tahun 1940-an oleh peneliti gizi
- Masuk ke Amerika Serikat dan Eropa pada 1970-an lewat gerakan vegan
- Kini banyak dijual di supermarket organik di Australia, Belanda, Jerman, dan AS
Lebih menarik lagi, banyak chef dan peneliti luar negeri kini mempelajari teknik fermentasi tempe untuk inovasi pangan masa depan.
5. Tempe dan Pengakuan Internasional
Indonesia mendaftarkan tempe sebagai Warisan Budaya Takbenda ke UNESCO, sebagai bentuk pelestarian warisan kuliner nasional. Selain itu:
- Food and Agriculture Organization (FAO) menyebut tempe sebagai makanan fungsional alami.
- Kampus dan lembaga riset internasional memasukkan tempe dalam studi gizi dan keberlanjutan pangan.
- Komunitas vegan global menganggap tempe sebagai pengganti daging yang lebih sehat dan etis.
Dengan pencapaian ini, tempe bukan hanya milik Indonesia, tetapi juga hadiah untuk dunia.
Kesimpulan
Tempe adalah bukti bahwa makanan tradisional bisa bertransformasi menjadi makanan global. Berawal dari dapur sederhana di tanah Jawa, kini tempe hadir di meja makan warga dunia.
Tidak hanya bergizi, tempe juga menyimpan nilai sejarah, budaya, dan inovasi pangan yang luar biasa. Sebagai orang Indonesia, sudah sepatutnya kita bangga dan terus melestarikannya.








